Sabtu, 21 Januari 2012

Profil: Owo Sugiana (RAB)

Posting ini merupakan bagian dari rangkaian posting mengenai profil pengguna Python di Indonesia

Di Indonesia, Python sudah digunakan untuk mengembangkan aplikasi komersial. Salah satu perusahaan yang menggunakan Python untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi komersial di antara: RAB Linux Indonesia. Demikian penuturan Owo Sugiana, dari RAB, mengenai penggunaan Python dalam bisnis RAB.
Baiklah, dimulai dari tahun 1999 saat RS Pertamina Jaya membutuhkan solusi
desktop di Linux. Akhirnya digunakanlah wxPython dan PostgreSQL. Sistem
yang dibangun dikategorikan sebagai ERP dan cukup mercusuar dimana dokter
memasukkan data keluhan pasien, saran, hingga resep. Suatu terobosan yang
berani yang dilakukan oleh direktur rumah sakit waktu itu. Ini bukan lagi
tentang IT. Yah, dokter mana yang mau mengetikkan resep ? Konon aplikasi
itu masih berjalan hingga sekarang.
Python berlanjut ke billing warnet (http://rab.co.id/warnet) yang telah
menginjak versi 5. Aplikasi ini merupakan desktop dengan 3 tier. Billing
menggunakan teknik firewall (iptables). Client windows beruntung, karena
juga disediakan rilis untuknya (exe).
RAB mulai memantapkan Python untuk aplikasi non web. Tahun 2004 berlanjut
ke sistem pengisian pulsa, namun masih menggunakan PHP untuk web admin.
Untuk transaksi menggunakan jalur XMLRPC antara PHP (client) dan Python
(server). Sedangkan report dan lainnya masih menggunakan teknik query
langsung ke database. Produk ini bertahan hingga sekarang.
Teknik yang sama juga digunakan untuk pembuatan SPP online, yaitu tagihan
dan pembayaran uang sekolah, mulai dari Kelompok Bermain hingga SMA. Ada 9
server sekolah dan 1 server yayasan. Python selain sebagai billing server,
juga merupakan synchronizer data. Sayangnya masih menggunakan PHP untuk
adminnya, entah kenapa :)
Tahun 2011 merupakan tahun "penemuan" untuk mengembangkan aplikasi web
dengan Python, yaitu Django. Hal yang mungkin sudah lama digunakan oleh
para peserta milis ini. Pemicunya adalah sebuah proyek yang pelanggannya
telah memiliki aplikasi di Google Apps, dan kami diminta untuk melakukan
upgrade karena developer sebelumnya punya kesibukan lain. Penelusuran
menunjukkan pustaka Google Apps berasal dari Django, namun bukan Django.
Ini mengganggu buat saya pribadi karena bisa-bisa hidup mati dengan Google.
Akhirnya ditemukanlah django-non-rel yang kompatibel dengan Google Apps.
Sejak itu saya selalu menggiring proyek web yang baru ke arah Django.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar